Enduro 150 KM dengan 20″

Sebelumnya nggak pernah kepikiran buat pake seli untuk perjalanan jarak jauh. Tapi dibanding dengan 2 event lain Delta Mas XC Championship dan Binus Duathlon,  event Enduro 150 ID-FB adalah yang paling santai dan paling bisa dinikmati. Mengingat frekuensi latihan kedodoran karena satu dan lain hal.

Persiapan mulai dilakukan, dari mengurus registrasi, mengganti pedal cleat dan sadel yang biasa dipakai sehari-hari, hingga ke fine tunning di Tanjidor Bike Shop. Persiapan belum lengkap rasanya tanpa test sepeda dan test track. Kebetulan Sabtu technical meeting dilaksanakan siang, jadi pagi hari bisa dimaksimalkan bersama teammate spesial saya yang kece, Intan Satria.

Hari H ternyata sebagian peserta on time dan semua tampak santai tapi antusias.  Melintasi rute Jakarta Utara Senayan – Manggarai – Sunter – Gading –  Gn Sahari – Senen – Matraman di pagi hari ternyata menyenangkan, jalan lebar, mulus dan datar dilewati dengan cepat tanpa gangguan kendaraan berat. Memasuki Soepomo via Saharjo untuk check point yang pertama seperti biasa, rombongan depan jauh dan dibelakang juga tidak tampak siapa-siapa serasa gowes sendiri. Maklum tidak biasa memakai seli ritme kayuhan dijaga hati-hati dan takut terpancing pace orang lain.

Dari Check point pertama ujian ketabahan dimulai. Perjalanan dilanjutkan luruuus dari Pancoran hingga Pancoran Mas di Margonda coret. Masih terus ke jalan RA Kartini sampai ke Pemda Cibinong via Grand Depok City. Suhu udara yang mulai meningkat, lalu lintas yang mulai ramai, keruwetan karena pasar tumpah, kontur rolling, dan kondisi aspal yang buruk mewarnai perjalanan ke check point kedua. Belum lagi terpaksa tektok dari persimpangan ke tempat pitstop karena salah pengertian membuat harus kembali menggowes ekstra di jalan yang rolling. Karena jeda peloton 1 dan peloton-peloton yang tercecer sangat jauh marshal sudah tidak lagi komplit ada di tiap persimpangan. Namun berkat seragam peserta, persimpangan yang tidak bermarshal digantikan oleh tukang ojek, timer pangkalan, dan warga sekitar sebagai penunjuk jalan.

Dengan sedikit rasa frustasi dan muka manyun Intan, akhirnya kita tiba juga di tempat check point kedua, makan siang dengan lahap disikat, cek jam ternyata belum jam 12, aman lah untuk bersantai-santai sejenak dan menghilangkan rasa keki nyasar karena salah paham. Menuju check point 3 sebetulnya dekat hanya 50km lagi, tapi naik sepeda lipat 20″ dan kontur Cinere dengan tanjakan lerengnya rasanya kok malas ya. Jalan santai saja yang penting target kurang dari 10 jam tercapai. Untung sekitar Cinere, Gandul, dan Ragunan cukup rindang, pace diset pada level recovery supaya bisa finish dengan muka segar dan keesokan harinya bisa beraktivitas normal tanpa kepayahan.

Baru ngeh kalau rute 150 Enduro ini ternyata melipir jalan Lebak Bulus 1 alias ngelewatin rumah Bona Indah dan pos check point 3 juga di daerah Pasar Jumat. Kayuhan tiba-tiba menjadi bersemangat saat memasuki Arteri Pondok Indah menuju Palmerah sudah terbayang finish saja sepertinya. Beda memang kalau roadies ketemu jalan ngaprak keluar masuk kampung dengan jalan raya yang mulus.  Tiba di Jalan Asia Afrika mulai last sprint, sedikit dorong-dorongan biar lebih semangat. Akhirnya bisa finish juga dengan perjuangan selama 8 jam, gangguin penduduk sekitar, handlebar bag becek karena pisang yg benyek, dan chainguard yang jebol.

Photo by: Dicky Basya & Andri Thaslim