Support Car

Bagi yang tinggal di Jakarta pasti tau dong seberapa jahanamnya kemacetan di jalan setiap harinya. Makanya saya takjub dengan orang-orang yang sabar setiap hari berada di tengah kemacetan dengan waktu dan rute yang sama, dan mayoritas hanya sendirian di dalam mobil. Terus terang mobil bukanlah moda transportasi favorit saya, terkait dari itu semua. Sering saya bengong kalau dengar obrolan yang ini interior nya lebih mewah, duh grill nya macho bngt. Yang saya tau mobil itu adalah alat transportasi yang bisa berpindah dari titik A ke titik B, mau berapa CC mau harganya berapa M, mobil cuma alat transportasi yang bisa bikin kita nggak basah saat hujan dan membawa muatan lebih banyak.

Ehm  tapi wajar dong yang namanya cowok sekali-kali ngomongin otomotif. Lucunya eksekutif muda, aktivis lingkungan, atau pesepeda punya preferensi yang berbeda saat memilih mobil. Sebagai kaum kelas menengah ngehek, sombong itu penting. Bayangin sepeda diangkut di atap mobil, lalu saat lampu merah kita berhenti di sebelah mobil paling pasaran di Jakarta yang kebanyakan tinggi-tinggi itu, mereka melongok keluar dan yang keliatan sepeda duluan.

Pengalaman jadi supir mobil bapak, mobil rental, dan mobil teman nggak membuat saya punya mobil idaman yang ideal untuk dikendarai. Sampai akhirnya liat siaran Tour d France di Youtube dan melihat TV commercial dari Skoda, support car team-team itu kebanyakan hatchback 7 seater dengan rak sepeda di atap. Dikondisikan untuk selalu memberi prioritas utama untuk pembalapnya di segala medan, pastinya juga bisa mensupport kegiatan sehari-hari di Jakarta.

Ya… saya jatuh cinta pada mobil ini dan mulai googling kira -kira perawakan mobil yang mana yang mirip mobil tersebut