Sri Kambing

Sri kambing - Aditya Wardhana (8)

Sri Kambing, begitulah beliau dikenal orang banyak di daerah Lombok Tengah. Kesulitan ekonomi sebagai istri guru sekolah honorer mendorong Ibu Sri untuk mencari jalan keluar. Penghasilan pas pas-an membuat Ibu Sri tidak bisa membayangkan bagaimana mereka bisa membesarkan kedua anak mereka dengan baik termasuk membiayai mereka sekolah sampai ke perguruan tinggi. “Saya harus punya usaha. Bagaimana bisa hidup dengan 17 ribu sehari? Anak-anak bisa putus sekolah nanti,” Tutur beliau. Maka ia pun terpikir untuk beternak kambing. Mengapa kambing? “Karena sejak kecil beliau memang dibesarkan oleh orang tua yang peternak kambing. Kalau pulang sekolah, beliau langsung gembala kambing. Sekolah sampai SMA pun dibiayai dari kambing.” Kata Sri yang bergantian dengan suami dan kedua anaknya menggembala kambing.
Tanpa pengetahuan yang cukup tentang ilmu beternak kambing, Ibu Sri berprinsip merawat hewan peliharaan itu seperti manusia. Kalau sakit ia berikan obat puyer, menyuapi mereka dengan oralit kalau menderita diare. Pengalamannya menunjukkan bahwa seperti manusia kambing ternyata juga tidak bisa tidur jika kandang kotor dan banyak nyamuk. Maka Ibu Sri pun membersihkan kandang mereka dua hari sekali lalu membuat bakaran sampah di pojok kandang agar asap yang ditimbulkan mengusir nyamuk. Alhasil para kambing bisa tidur lelap. Selain itu tidak lupa bergantian dengan kedua puteranya, mereka mengembalakan kambing sampai berkilo-kilo meter jauhnya. “Kalau kambing, dia makan banyak. Jadi cepat tumbuh besar.” Setiap kali kambing betinanya melahirkan, Sri benar-benar memperhatikan bagaimana anak-anak tersebut memperoleh nutrisi yang cukup. Puting susu induk kambing yang hanya dua membuat Sri bersiap memberikan asupan susu botol jika sang betina beranak lebih dari dua ekor. Sri bisa berbangga hati bahwa selama ini tidak seekor pun anak kambing yang ia miliki mati karena kurang perawatan.

Sri kambing - Aditya Wardhana (7)