Nursyda Syam

Sekolah Anak Negeri - Aditya Wardhana (6)

Semangatnya begitu membara terlebih saat membicarakan buku, tulisan, dan penulis, padahal waktu sudah menunjukkan pukul 10 WITA dan satu persatu pengunjung di warung itu mulai pulang. Pikiran saya lahap mencerna ucapannya selahap saya ke memasukkan potongan udang ke mulut saya. Gagasan untuk membuka wawasan dan pengetahuan warga agar dapat memajukan Desa Sokong, Lombok Utara sebuah desa dibalik perbukitan dengan cara membangun taman bacaan terbukti efektif.

Beliau membangun taman bacaannya dari koleksi buku pribadinya. Perempuan dan anak-anak ia jadikan target utama pengunjung taman bacaan ini. “Gemas rasanya nggak bisa ngegosip soal buku sama tetangga disini. Yang ada malah gosip artis sinetron.” Berangkat dari sana ia melihat bahwa sebenarnya banyaknya waktu senggang bagi para ibu-ibu maka dibuatlah komunitas yang diarahkan minatnya untuk membaca “Saya yakin mereka sebenarnya suka membaca, tetapi terhambat kemampuan ekonomi dan bahan bacaan yang terbatas”

Setelah taman bacaan, Ibu Nursyda kemudian membuat kelompok belajar untuk anak-anak yang diberi nama Sekolah Anak Negeri (SAN). Diawali dengan 13 anak bertempat di bale-bale di belakang rumah Ibu Nursyda. Sekarang jumlah anak yang bergabung mencapai 80 orang dan ada di 3 dusun, yaitu Lendang Galuh, Jambianom dan Prawira. Materi yang diberikan disesuaikan dengan konteks lokal mereka. Salah satunya adalah kenyataan bahwa daerah mereka rawan bencana alam seperti longsor dan banjir.  Ia juga menggelar “kelas layar tancap” yang menayangkan film-film anak inspiratif seperti “Garuda di Dadaku” dan “Laskar Pelangi”.

Kekaguman saya makin bertambah setelah tahu Ibu Nursyda ternyata juga seorang penulis, karyanya antara lain “Gadis Itu Bernama Rinjani” (Kumpulan cerpen), “Embun di Ujung Daun” (Biografi Slamet Suriawan Sahak), “Pendar Cahaya Terang Dari Gumi Selaparang” (biografi Lalu Gafar Ismail), “Tonggak” (Antologi cerpen bersama penulis NTB lainnya). Dan kini beliau tengah mempersiapkan launching 3 buku sekaligus (Novel Karena Engkau Bidadari Pena, novel Tulah Manuh, antologi puisi “Ambrosia”.) Anak-anak di Sekolah Anak Negeri juga mulai diarahkan untuk menulis, dimulai dari menulis apa saja hingga jadi cerita pendek.


Saya percaya suatu hari Ibu Nursyda sudah tidak lagi bertanya “Sudah membaca buku apa hari ini?” tapi menjadi “Sudah menulis apa hari ini?”