Masjid Raya Medan

aditya wardhana - masjid raya medan (5)

Bangunan Masjid dengan 4 pilar megah yang berdiri ditengah kota menarik perhatian saya untuk mendekat. Begitu menginjakkan kaki di pekarangannya, terdengar hardikan keras dari penjaga masjid. Saya pun dibuat kikuk, eh apa salah saya? Ternyata hardikan itu ditujukan pada pengunjung lain yang busananya dinilai kurang sopan untuk masuk kedalam masjid raya.

Tiba di Medan pukul 5 sore tanpa tujuan yang jelas, Masjid Raya Medan akhirnya jadi tujuan pertama saya untuk membidikkan kamera. Saya menikmati semilir angin disana dan mengagumi arsitekturnya yang berusia lebih dari 1 abad. Menyandang nama Masjid Raya memang bukan tanpa alasan, bangunan masjid raya terlalu besar untuk lensa 24 saya. Ah daripada dipaksakan lebih baik saya mengambil detail dan memotret orang-orang yang beraktivitas disana.

Suasana masjid yang adem memudahkan saya juga  untuk menyapa orang untuk meminta ijin untuk memotretnya, sayapun lupa kalau ini adalah Medan kota yang terkenal masyarakatnya keras. Hasilnya mereka minimal pasti tersenyum saat saya tunjukkan fotonya lalu tidak keberatan untuk saya ambil ulang , malah pose mereka jadi semakin mantab. Jadilah acara foto-foto di masjid raya menjadi molor karena kami pada akhirnya menjadi ngobrol.

Bila semua diladeni cerita dan pertanyaan merekapun ajaib. Mulai dari seorang nenek yang kisahnya baru pulang dari pergi haji, mendoakan saya supaya sukses dunia akhirat tapi ujung-ujungnya minta sedekah untuk pulang ke rumah dan tidak kunjung pulang juga sampai saya  mengakhiri kunjungan disana. Ada juga Pak Bambang  sang penjaga menara adzan, dia meminta ijin untuk melihat foto-foto hasil bidikan saya di masjid raya lalu kemudian diledek bahwa foto saya kalah bagus dari foto dia yang diambil dari menara adzan yang akses naiknya terbatas. Adalagi abang tukang becak yang mendominasi pembicaraan mulai dari perilaku berkendara di Medan, calon presiden 2014, dan red light district di Medan ini

Ya beginilah cara saya menghabiskan satu sore di Medan