Sanggar Anak Alam

sanggar sahabat alam - aditya wardhana (4)

Segerombolan anak berjalan dengan riang sambil melintas di pematang sawah. Seseorang lari mengejar capung, beberapa lagi jongkok sambil menyibak semak-semak. Selang sebentar mereka mengeluarkan pensil lalu mencatat sesuatu ke dalam buku. Sangat antusias seperti ilmuwan yang sedang melakukan penelitian, ternyata mereka sedang ditugaskan untuk mencari tumbuhan yang bisa dijadikan bahan makan sambil berjalan-jalan.

Banyaknya anak putus sekolah, pernikahan dini, kelompok usia produktif memilih bekerja di luar kampungnya, kemiskinan dimana-mana padahal tanah begitu subur memungkinkan mereka menghasilkan perkebunan merupakan problema sosial yang terus mendera masyarakat desa Lawen. Ibu Wahya melakukan riset kecil-kecilan untuk mengetahui asal “penyakit kemiskinan” ini. Ternyata pendidikan yang tidak mengakar merupakan kendala utama mengapa masyarakat Lawen bisa tertinggal. “Saya lalu ingat pesan Romo Mangun bahwa perguruan tinggi itu penting, tapi pendidikan dasar lebih penting,” ujar ibu Wahya.

Berangkat dari sana ibu Wahya membangun sekolah berkonsep sanggar yang dinamakan Sanggar Anak Alam (Salam). Konsep belajarnya disesuaikan dengan kodrat anak-anak bermain dengan memanfaatkan alam sebagai media belajar. Pengenalan lingkungan dilakukan dengan mengamati kehidupan sepanjang kalen (sungai kecil), galengan (pematang sawah), dan sawah. Anak-anak belajar dari apa yang mereka lihat yang mereka amati dan lakukan. Mereka juga belajar untuk srawung yaitu menyapa, bertanya, dan bergaul sehingga anak-anak tidak merasa asing dengan lingkungan yang ada disekitarnya.

Awalnya gerakan ibu Wahya tidak didukung oleh orang tua anak-anak itu karena Salam dianggap membuat anak-anak berhenti ngarit (potong rumput) dan tidak menghasilkan uang. Namun karena ibu Wahya berhasil memberdayakan masyarakat dengan membuat jenis camilan dari singkong dan pisang lalu membuat sapu untuk dijual keluar kampung, lambat laun ekonomi warga membaik.

Berbekal pengalaman di Lawen, Ibu Wahya lalu pindah ke Bantul untuk kembali merintis salam. Karena konsep Salam yang berinteraksi dengan warga dan alam bukan terpaku dari text book, Salam terus berkembang. Dari awalnya 15 anak yang tertarik kini Salam sudah seperti kampung internasional. Anak kampung, anak kota, dan anak bule bermain dan belajar bersama menjadikan Salam diakui sebagai Pusat Kegiatan Belajar Mandiri dari pemerintah.

Mendengar saya lupa, melihat saya ingat, melakukan saya paham, menemukan sendiri saya kuasai. Alam adalah ruang kelas terbuka dimanapun, siapapun bisa memetik pengetahuan. Rasa ingin tahu seorang anak adalah modal utama mereka untuk maju, maka kita harus biarkan mereka mencari tahu.

Tulisan & foto ini dibuat saat penugasan foto profil Ibu Sri Wahya oleh Tupperware Indonesia untuk promo program SheCan di Trans7 | http://www.tupperware.co.id