Penang Kota Persemakmuran

Dianugerahi sebagai Heritage City oleh UNESCO ternyata bukanlah sebuah gelar belaka. Di Penang kita bisa melihat sebuah kota yang bernuansa gaya Art Deco kolonial Inggris bercampur dengan gaya Cina klasik. Suasana kota Penang yang dikelilingi gedung-gedung tua bersejarah seolah membuat waktu berjalan lambat, cocok untuk melupakan keruwetan Jakarta namun masih di daerah kota yang berperadaban.

Trip ini dimulai dari iseng browsing website Air Asia yang banting harga Tune Hotel jadi hanya Rp.14.000 permalam. Hampir sama dengan jumlah nominal yang saya keluarkan untuk memberi tips petugas pom bensin atau petugas musholla saat touring bersepeda. Lumayanlah bisa tidur beres walau kamarnya tidak ada jendelanya.

Keramahan orang-orang Penang membuat saya sedikit takjub, tampaknya semua orang di sini gemar ngobrol. Suatu kali saya ditegur bapak-bapak India dengan bindi di dahi, tindikan di hidung serta telinga, kacamata, dan janggut yang lebat , ooo ternyata itu tadi petugas terminal bis yang saya tanyai arah jalan dan rute bis, agak pangling memang bila sudah berganti seragam dinas. Lain pula dengan seorang bapak penjaga toko souvenir di kuil tempat saya berteduh saat hujan, obrolan kami dimulai dari menanyakan saya asli mana kian lama bicara bola, piala AFF, Safee Ali, lalu orang-orang Malaysia di Kuala Lumpur sana. Absurd dan ngalor ngidul untuk ukuran orang yang baru saja kenal.

Berkeluyuran di Georgetown sungguh membuat iri. Pameran seni dan festival budaya seolah tidak pernah putus tiap bulannya, belum lagi workshop yang diadakan gratis di ruang publik selalu diminati oleh berbagai kalangan. Semua digelar secara “serius” baik dari sisi komunikasi, visualnya, dan pengemasannya. Ah sayang kamera saya keburu kehabisan catu daya karena saya meremehkan obyek foto di Penang, ternyata saya  salah dan kecewa karena meninggalkan chager di rumah. Mudah-mudahan ini pertanda saya harus kembali lagi ke Penang untuk bersenang-senang.