21 Srikandi Di mata Saya

Ikut mendampingi dan sesekali masuk kedalam formasi calon-calon Srikandi pada latihan terakhir memperlihatkan saya banyak hal. Hanya dengan tiga kali latihan intensif rasanya chemistry antara peserta sudah terjalin dengan baik. Semua bisa saling mendukung, saling membantu, dan saling memotivasi satu sama lain.

Porsi latihan kali ini disimulasikan untuk menghadapi kontur pegunungan yang naik turun. Mengambil lokasi di fly over Bintaro peserta dibawa melintasi fly over mungkin sebanyak enam kali. Kemampuan peserta merata dan semua mampu melewatinya tanpa kendala. Setelah itu rombongan peserta beranjak ke alam sutera dan memutarinya sebanyak lima putaran dengan berinisiatif melatih formasi peloton tanpa diinstruksi pelatih Marta Mufreni.

Di salah satu putaran saya leading di depan dengan Helios, niatnya membantu memecah angin. Ditanya sekarang jalan speed berapa? Ya saya jawab lempeng 23 Kpj. Ok, coba jadiin 25 Kpj dit, padahal mah disepeda saya nggak ada spedometernya. Saya tambah kecepatan kayuhan, kyknya sih dikit lagi nyenggol 30-an tapi ternyata semuanya bisa mengikuti konstan tanpa tercecer.

Terjadi insiden yang cukup serius antara rombongan Srikandi dengan salah satu pengendara motor di jalan. Tense Manalu terjembab akibat terserempet bapak pengendara motor karena si bapak tergesa-gesa dan memaksa untuk memotong rombongan. Untung berkat  helm dan peserta di belakang tanggap untuk mengamankan jalur tidak ada cedera serius yang menimpa Tense. Kejadian tersebut diselesaikan dengan si bapak meminta maaf dan situasi menjadi lebih baik karena setelah itu semua dijamu hidangan istimewa di rumah Taufik Hidayat

Dengan catatan waktu tempuh jarak tempuh 88 Km dalam waktu 4 jam dan kecepatan rata-rata 22 Kpj selalu ada progress yang dihasilkan para calon Srikandi ini hal ini menandakan motivasi para calon peserta tidak berkurang justru semakin bersemangat untuk mengerahkan usaha yang terbaik.

Iklan