Touring Tangkuban Parahu

Jalur Alpen Trophy atau Kejurnas Tanjakan memang bukan sekedar nama. Jalan Cagak Subang, Palasari, Ciater, dan Tangkuban Parahu menyuguhkan banya tanjakan harja khas Jawa Barat.

Setelah dimanjakan medan datar sepanjang 140 km antara Jakarta – Kali Jati, etape pendakian baru dimulai selepas magrib dari Alun2 kota Subang.

Tanjakan sepanjang 15 km harus ditempuh dalam gelap, sedikit menguras tenaga tapi setelah sadar perjalanan tersebut memakan waktu 3 jam. Relatif lama, mungkin efek nanjak di waktu gelap.

Karena malam semakin larut dan kita belum mengenal medan di depan maka diputuskanlah kami bermalam di Cagak subang dengan mempertimbangkan kondisi  fisik, dan akomodasi.

Keesokan paginya kayuhan dimulai dengan segar berkat istirahat yang cukup dan asupan sarapan warung nasi teteh subang. Tanjakan demi tanjakan dilewati dengan ditemani pemandangan hijau, gunung, dan tukang nanas.

Ada tanjakan yg evelasinya lumayan bila dilihat mata, tapi malah mudah melewatinya, ada juga tanjakan yang elevasinya biasa saja, tapi justru harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk melewatinya, tapi tentu saja segera disambut tanjakan baru lagi.

Finish di gerbang Tangkuban Parahu sempat ngobrol sedikit dengan roadies Bandung yang iseng muterin Purwakarta – Wanayasa – Lembang via Tangkuban Parahu. Karena waktu yang terbatas kami semua langsung turun via Ledeng Lembang dengan menyelinap di tengah kemacetan sampai Ciampelas.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Singkat kata ini bukan tentang  destinasi, tapi ini tentang perjalanan itu sendiri.