Wah Gede Banget

Hati ini memang tertambat di gunung. Sejak berusia 5 tahun saya sudah diperkenalkan dengan gunung oleh bapak. Walau sudah hampir setiap minggu pergi ke gunung untuk bersepeda tapi rindu rasanya mendaki gunung dengan memanggul ransel.

Trip kali ini kami hiking ke Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, berbekal tekad mendaki non-stop kami berangkat bersembilan dari PU. Rencananya kami akan berangkat sabtu subuh supaya bisa pulang cepat, namun rencana justru dimajukan jadi jumat malam untuk mengejar matahari terbit. Err masalahnya paginya saya ber B2W dan pulang cukup mepet dari waktu keberangkatan, tapi show must go on lah pastinya.

Pendakian dimulai sekitar pukul 2 dini hari, ditemani oleh wanginya embun, daun basah, dan bunyi serangga setelah sempat dilarang oleh ranger yang bertugas karena waktu pendakian harus dilakukan pada waktu terang.

Saat mendaki memang saat yang paling struggle. Tiap langkah di undakan rasanya seperti latihanĀ strength. Kebersamaannya juga sangat kental, kita harus selalu ngumpul bersama, toleransi juga dengan perbedaan kemampuan fisik, dan berbagi segala yang kita punya.

Perjalanan kami lalui dengan pelan tapi pasti, dari gelap, terang, hingga gelap kembali. Saling menyemangati satu sama lain dan saling membantu saat medan sulit dilalui. Hingga saat kami kelelahan dan sedikit kehilangan petunjuk, mata saya justru dibuka dan melihat kalau kawan-kawan seperjalanan ini sangat luar biasa.