Hemat Dengan Sepeda?

Beberapa waktu yang lalu linimasa twitter B2W Indonesia melempar sebuah wacana mengenai nominal yang bisa dihemat dengan bersepeda.

Tanggapan orang-orang cukup ramai dan responnya positif, namun kebanyakan orang jadi belomba lomba menghitung nominalnya secara gamblang. Agak lucu membacanya karena mengingatkan saya pada orang yang menghitung anak ayam sebelum telurnya menetas.

Bagi buruh, petani, atau penjaja makanan yang menggunakan sepeda memang benar-benar bersepeda dengan tujuan mengirit pengeluaran. Sedangkan bagi sebagian besar anggota maupun simpatisan komunitas bersepeda yang bekerja pada level manajerial mengengah menggunakan sepeda juga didasari pada gaya hidup yang tidak bisa terlepas dari pergaulan dan gengsi.

Sebut saja bila kita harus membeli minuman isotonik pengganti cairan tubuh, kuliner bersama teman – teman setelah jam kantor, panggil pemijat untuk melemaskan otot yang pegal, membeli tambahan deterjen untuk mencuci baju kotor kita. Pos -pos seperti itulah yang kedengarannya remeh namun ternyata besarnya sebanding bila kita menggunakan kendaraan selain sepeda.

Katanya suka sepedaan, tapi kenapa itung-itungan? Sudah lah bersepeda itu menurut saya tidak bisa diukur dengan uang, saya bersepeda karena saya senang. Saya ber-commuting dengan sepeda karena saya hanya punya waktu di akhir pekan untuk serius berlatih (*itu pun lebih sering terganggu pekerjaan dan tidak seriusnya)

Dan orang yang paling merasakan manfaat dari ber B2W adalah orang-orang yang bekerja di belakang meja yang punya jadwal teratur. Untuk pekerja lapangan yang jadwalnya unpredictable agak sulit memang untuk ber B2W secara rutin, karena itu kadang menggunakan mobil dan motor lebih realistis dan efisien dibandingkan dengan bersepeda.