Velodrome Rawamangun

Ntah ada angin apa suatu siang om nelepon jauh-jauh dari Solo nawarin mau nggak dibikinin sepeda fixed gear.. WTF dalam hati tapi mulut nggak bisa bilang ogah ah om. Telepon ditutup langsung mikir.. kena karma apa ini, biasanya ngeledekin anak fixie dan sekarang ditawarin main fixie sama om sendiri. Ternyata oh ternyata

Ya, Velodrome Jakarta sekarang dibuka untuk umum dan tanggal 27 Maret 2011 akan diadakan open house disana.. Stay tune aja soal infonya sepertinya acara ini didukung penuh oleh  Sepedaku.com dan ISSI Jakarta sendiri. Sebagai gambaran saja, saya juga share ulasan Velodrome Jakarta dari sisi lain yang ditulis oleh Inu Febiana dari team PetaX Sepedaku.com

Sudah sejak lama sebetulnya Velodrome berfungsi sebagai ‘hotel’ bagi para pesepeda, atau sebut saja tempat persinggahan bagi pesepeda siapapun itu untuk sekedar berkunjung, atau bahkan bermalam. Kebenaran tentang ini bisa ditanyakan langsung kepada para atlit sepeda di Seluruh Indonesia, juga ditegaskan Wahyudi, pelatih ISSI Jakarta, “ini rumah bagi semua pesepeda kok, asalkan mau ikut berkelakuan baik, berniat baik, silahkan saja, toh kita semua bersaudara”, imbuhnya.

Velodrome, stadion balap sepeda, diresmikan pada era gubernur Ali Sadikin pada 20 Maret 1973 kini telah hampir rampung bebenah diri untuk persiapan Sea Games tahun ini. Pembenahan ini didasari inisiatif Wahjudi yang ‘ngotot’ meminta pemerintah untuk bebenah. Berdasar pemantauan lapangan, tinggal lintasan saja yang belum mendapat sentuhan. “Katanya sih pertengahan bulan Februari”, kata Andri Prawata, salah seorang atlit balap sepeda Jakarta lapis pertama.

Keseharian Di Velodrome
Ketika tiba di tempat ini bertepatan dengan para penghuninya yg atlit balap sepeda bersiap makan malam, makanlah bersama mereka di sebuah mall dengan makanan yang bebas mereka pilih.

Idealnya baik jam makan dan pehitungan kandungan sangat mereka perhatikan. Itu bila bicara ideal, namun kenyataan tidak berkata demikian saat dana makan saja amat sangat terbatas, cukup untuk harga warung pinggir jalan, bahkan masak seadanya. Tidak usah dulu bicara vitamin tambahan berkualitas yang hingga kini masih harus import.

Dengan gaji tidak sampai 2 juta bagi atlit lapis pertama, tidak masuk perhitungan matematis sama sekali bila nilai sebesar itu harus pula dibelanjakan untuk makanan berkualitas ditambah vitamin, disamping kebutuhan utama mencukupi keperluan sehari-hari bagi yang telah berkeluarga, kuliah.

Terkecuali Alvin, yang baru saja mencicil sebuah sepeda seharga 50 jutaan, lainnya tidak satupun memiliki sepeda layak dilombakan, semuanya pinjaman. Sepeda milik ISSI Jakarta sendiri hanya layak dipergunakan untuk latihan sehari-hari, itupun dengan part kanibal. Itu sepeda, jersey dan bike pants saja mengandalkan bekal balapan beberapa waktu lalu.

Raja Sapta Oktohari, yang beberapa minggu lalu baru saja ditetapkan sebagai ketua ISSI Jakarta berjanji untuk tidak diam melihat kenyataan seperti itu, “Tidak pantaslah bagi sekelas ibukota negara, Jakarta atletnya tidak diperhatikan. Tunggu saja beberapa waktu kedepan, from zero to super hero!”, tegasnya.

Anak-anak sendiri, tiada patah semangat dengan kondisi serba terbatas seperti itu. “Kami prajurit mas, harus selalu siap dengan kondisi apapun”, di sela sarapan setelah latihan.

Retorika Balap Sepeda Indonesia
Bila melihat kenyataan yang ada pada kehidupan para pembalap sepeda di Indonesia secara umum, Jakarta khususnya, kondisi tidak berbeda jauh dengan di kota-kota lainnya. Masyarakat dibawa media dan pasar pada salah satu cabang olah raga saja, sementara lainnya masih banyak.

Cukupkah dengan teriakan “kami dukung!”, atau prihatin?, tidak. Diperlukan sinergi antar pihak terkait dengan proses berkelanjutan. Komunitas dan club-club kecil merupakan ladang bibit unggul selanjutnya; pemerintah merupakan payung kebijakan; swasta merupakan pendukung dalam artian riil sumber dana mencukupi anggaran pemerintah; dan masyarakat sebagai pemantau berdasar informasi obyektif yang disampaikan media. Memang enak ya, sekedar ngomong, sekedar nulis dan sekedar perhatikan? Hehehe…

Simak di salah satu thread tentang PSN (Polygon Sweet Nice) yang meng-claim telah ‘diganjal’ PB (Pengurus Besar) ISSI sehingga dikhawatirkan tidak dapat mengikuti pertandingan skala Internasional yang sebentar lagi berlangsung. Cuma gara-gara faktor sederhana, birokrasi taktis secara administratif yang seharusnya bisa ditengahi dengan komunikasi intens, atau mediator bila perlu.

Seperti halnya pada sepak bola dan cabang lainnya, bangga bukan bila cabang balap sepeda baik on road, track, MTB, BMX bisa berprestasi di kancah internasional dan atletnya sejahtera?. Semoga velodrome tidak lantas menjadi velodoom, meski besar kemungkinan begitu bila didiamkan begitu saja.