Melawan Gravitasi Berburu Bird Eye I


Bersepeda di pegunungan dengan tanjakan panjang sebenarnya merupakan acara menggenjot yang indah, meskipun juga yang paling menguras tenaga. Terindah? Ya memang indah, setelah mencapai puncak, kita bisa meikmati sajian keindahan panorama dari sudut pandang berbeda apalagi jika titik puncak tersebut berada di ruang terbuka. Menurut istilah fotografi sih bird eye atau melihat dari ketinggian.

Selain kepuasan mata, sukses menaklukan tanjakan tentu membuat batin bangga, apalagi setiap tanjakan selalu memberi hadiah berupa turunan, sepadan dengan jerih payah kita saat menapak ke puncak. Karena itu, bersepeda melewati tanjakan bisa disulap menjadi ajang rekreatif penuh kegembiraan. Asalkan tahu resep sukses melatih otot dan nafas, niscaya kita bakal ketagihan mengarungi tanjakan setinggi apapun.

Perlu diingat, bersepeda di tanjakan sebenarnya juga merupakan pertarungan melawan gravitasi bumi. Kemampuan utama kaki kita sebagian besar harus tersalur ke pedal mengimbangi bobot tubuh sendiri. Karena itu pesepeda dengan tubuh kurus cenderung tidak perlu menguras tenaga sebanyak pesepeda gemuk. Namun jangan lantas berkecil hati, kabar terbaiknya dengan latihan teratur di tanjakan, mereka yang bertubuh gemuk akan mendapatkan hadiah berupa tubuh atletis. Sementara mereka yang bertubuh kurus hadiahnya berupa tubuh berotot.

Lokasi ideal

Agar bisa menaklukan tanjakan, satu -satunya cara tentu harus berlatih di tanjakan. Tidak mungkin bila ingin hebat di tanjakan dengan berlatih di medan datar. Sayangnya kendala ini kerap ditemui bagi kita yang tinggal diperkotaan. Carilah medan tanjakan yang ideal baik dari segi jarak maupun tingkat elevasinya. Sebisa mungkin pilihlah rute komplit berisi tanjakan ringan, sedang, dan berat. Pertama kategorikan beberapa tanjakan tersebut sesuai kebutuhan berlatih, misalnya:

  1. Tanjakan Cepat. Ciri khas rute ini berupa tanjakan pendek dan ringan. Cocok untuk melatih kecepatan dan power kayuhan. Tanjakan pada flyover masuk pada kategori tanjakan ini.
  2. Tanjakan Repetisi. Agak sulit menemukan rute demikian di perkotaan. Di dalam nya wajib mencakup beberapa kali tanjakan dengan durasi waktu sekitar 2-4 menit saat dikayuh menuju puncak. Sebisa mungkin tidak ada traffic light atau rute landai. Idealnya ada jeda 5 menit sebelum tanjakan lagi.
  3. Tanjakan Panjang. Tanjakan ini minimal membutuhkan waktu lebih dari 10 menit untuk mencapai puncak. Nyaris tidak ada tanjakan demikian di perkotaan. Satu-satunya cara ya harus mencarinya di pegunungan. Tanjakan ini punya manfaat untuk melatih power dan endurance secara berkesinambungan.
Tulisan ini disadur dari majalah Cyling Juli 2006/Lukas Ferdinand