Tanjakan di 100 Km

Uphill cycling need your faith,
don’t have it and you’ll never reach the top

-1PDN Cycling

Hari kedua dan ketiga ada lah etape gunung, bisa dilihat di peta ada 2 gunung yaitu Gunung Ciremai dan Gunung Kumbang.  Selepas Subang kontur tanahnya jadi unik jalan lurus 200 m lalu disambut 3 kali tanjakan pendek begitu seterusnya hingga belasan kilometer. Sejak berangkat hujan selalu menemani kita, ada beberapa kendala selama hujan seperti

  • Handphone saya mendadak hang karena embun dan terpapar udara dingin selama 6 jam. Sudah pasrah dan nggak ambil pusing karena masih ada hp teman yang lain yang bisa dipinjam untuk memberi kabar.
  • Hujan membuat kita enggan mengeluarkan peta  karena itu kita jadi lebih sering menanyakan dan memastikan arah dengan GPS (Gangguin Penduduk Sekitar)

Oh ya kelihatan jelas kan di peta yang konturnya  digolongkan gunung hanya ada 2, tapi karena itu peta mudik jadinya secara topografi agak kurang bisa diandalkan.  Sedangkan menurut penduduk sekitar ada 2 tambahan gunung dan kroco-kroco nya yang nggak ada di peta seperti Plangon sebelum Kuningan, Gunung Tilu di daerah Luragung, dan Gunung Lio di daerah Salem.

Indikator lain yang dijadikan acuan untuk orientasi arah dan medan adalah tangan penduduk yang kita tanya. Biasanya orang yang kita tanya akan menujuk arah dan dekat jauh nya jarak dapat dipercaya.  Tapi jangan keburu senang kalo mereka bilang “Oh caket” (oo dekat) sambil menunjuk arah dengan ibu jari. Perhatikan baik-baik tangan mereka, kalau mereka nunjuk dan kita bisa lihat ketiaknya dijamin rutenya nanjak apalagi kalo kita bisa lihat bulu nya, bisa dipastikan elevasinya pasti dasyat.

Berbeda dengan kegiatan bersepeda yang sering dilakukan, bersepeda dengan rute tanjakan biasanya dipilih sebagai main course dari satu hari itu. Lain dengan touring, medan yang ada didepan mata tidak dapat dipilih-pilih, ditambah lagi cobaan dari cuaca. Masih terasa ngilunya jari-jari saat menembus dataran tinggi ditengah hujan, atau dasyatnya tanjakan Gunung Lio yang panjangnya hanya 5 Km tapi butuh 2 jam untuk menempuh nya.

Setelah sampai di rumah dan kembali bersepeda kadang-kadang suka terlintas beberapa hal… “Eh kok kemarin bisa ya udah gowes jauh trus ngelahap tanjakan panjang..” atau “Kemaren bangun tidur males nya sama buat nge gowes, cuman begitu udah diatas sepeda jadi semangat lagi” Ntah kekuatan apa yang menyertai selama perjalanan sehingga kayuhan bisa tetap bersemangat. Semoga kekuatan ini bisa selalu menyertai dan ditransformasikan dalam memotivasi diri sendiri, tambah rajin, tambah semangat, dan makin bisa mengontrol tindakan.